Mencermati Makna Mujalasah Ta’limiyyah
Oleh : Rizki Abdurrahman
1. Pengertian Mujalasah
Mujalasah berasal dari kata جلس yang bermakna duduk[1]. mujalasah ini merupakan bentuk mashdar dari kata جالس – يجالس – مجالسة, salah satu makna dari wazan tersebut adalah li al-musyarokah[2], yaitu perbuatan yang dilakukan secara berserikat. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa secara bahasa mujalasah ini adalah duduk yang dilakukan secara bersamaan. Ahmad Warson mengartikan fi’il madhinya yaitu جالسه dengan arti duduk bersama[3].
Disamping kata جلس, ada pula kata lain yang bermakna duduk, yaitu قعد. Menurut pengamatan Syekh Baitullah Bayyat, perbedaan antara الجلوس dan القعود yaitu, jika الجلوس adalah perpindahan dari bawah ke atas, sedangkan القعود bermakna perpindahan dari atas ke bawah. Dengan demikian, ketika kita memerintahkan kepada orang yang tidur untuk duduk maka ungkapannya adalah إجلس, sementara jika kita memerintahkan kepada orang yang berdiri untuk duduk ungkapannya adalah أقعد. Lebih lanjut beliau menegaskan bahwa terkadang جلس juga bermakna قعد.[4]
Sebenarnya, kata mujalasah ini bukan bahasa yang baru, tetapi sudah dikenal pada masa dulu. Hal ini terbukti dari perkataan Luqman kepada anaknya, yaitu:
عَنْ لُقْمَانَ، أَنَّهُ قَالَ: " يَا بُنَيَّ جَالِسِ الصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِ اللهِ، فَإِنَّكَ سَتُصِيبُ بِمُجَالَسَتِهِمْ خَيْرًا، وَلَعَلَّهُ أَنْ يَكُونَ فِي آخِرِ ذَلِكَ أَنْ تَنْزِلَ الرَّحْمَةُ عَلَيْهِمْ وَأَنْتَ فِيهِمْ فَتُصِيبَكَ مَعَهُمْ "
Dari Luqman, bahwa ia pernah berkata kepada anaknya, “Wahai anakku hendaklah kamu duduk bersama orang-orang shaleh dari kalangan hamba Allah, karena dengan melakukan duduk bersama mereka engkau akan memperoleh kebaikan. Dan bisa jadi diakhir mujalasah itu, rahmat turun kepada mereka dalam keadaan kamu bersama mereka, maka rahmat datang kepadamu bersama mereka”.[5]
Kata mujalasah juga dikenal pada masa Rasul, hal ini tercermin dari nasehat beliau, yaitu:
عن أبي جحيفة قال : قال رسول الله صلى الله عليه و سلم : جالس العلماء وسائل الكبراء وخالط الحكماء
Dari Abu Juhaifah, ia berkata, Rasulallah saw bersabda, “Hendaklah kamu duduk bersama para ulama, bertanyalah kepada para pembesar dan bergaulah dengan para ahli hikmah”.[6]
Dalam hadits lain Rasulallah pernah bersabda,
من استقبل العلماء فقد استقبلنى ، ومن زار العلماء فقد زارنى ، ومن جالس العلماء فقد جالسنى ، ومن جالسنى فكأنما جالس ربى (الرافعى عن بهز بن حكيم عن أبيه عن جده)
“Barangsiapa yang menghadap ulama maka sungguh ia telah menghadapku, barangsiapa yang berkunjung kepada ulama maka sungguh ia berkunjung kepadaku, barangsiapa yang duduk bersama ulama maka sungguh ia duduk bersamaku, dan barangsiapa yang duduk bersamaku maka ia seperti duduk bersama Rabku”. (Ar-Rofi’I dari Bahz bin Hakim dari bapaknya dari kakeknya)[7]
Dari uraian diatas, kita dapat berkesimpulan bahwa mujalasah adalah duduk yang dilakukan secara bersamaan. Duduk dengan kata mujalasah bermakna duduk yang asalnya tidur. Kata mujalasah sebenarnya bukan kata yang baru (henteu bid’ah), tetapi kata mujalasah sudah dikenal pada masa Luqman, dan juga pernah digunakan oleh Rasul. Dengan landasan ilmiah tersebut, semoga kita termotivasi untuk mengikuti program mujasalah ini dengan penuh keikhlasan.
2. Pengertian Ta’limiyyah
Dalam tinjauan ilmu nahwu, kata Ta’limiyyah merupakan bentuk mashdar shinai’i[8] dari kata ta’lim. Hakikat dari mashdar shina’i ini adalah sifat yang disandarkan kepada isim tersebut. Dengan demikian, kata ta’limiyyah merupakan sifat dalam ta’lim. Dan mujalasah ta’limiyyah itu bermakna duduk yang dilakukan secara bersama-sama yang didalamnya terdapat proses ta’lim.
3. Hakikat Kegiatan Mujalasah Ta’limiyyah
Mujalasah Ta’limiyyah hanya merupakan suatu isim, tetapi isim yang tidak asal isim, melainkan isim yang menggambarkan hakikat dari musamma. Suatu bentuk kegiatan apa pun akan digambarkan oleh isim tersebut, jika isimnya baik maka tentu musammanya harus menggambarkan isim yang baik tersebut. Hakikat mujalasah ta’limiyyah yang kami maksud adalah bentuk kegiatan kelompok belajar yang dilakukan oleh sekelompok orang untuk menggali berbagai ilmu pengetahuan yang didalamnya terdapat proses ta’lim. Ilmu pengetahuan yang kami tekankan dalam kegiatan ini disesuaikan dengan kondisi perkuliahan yang kita jalani, yaitu meliputi ilmu kebahasa Araban, keislaman dan kejam’iyyahan, dengan tanpa menghindarkan ilmu-ilmu lain.
4. Menyingkap Hakikat Ta’lim
Unsur yang terdapat dalam proses ta’lim adalah sebagai berikut:
a. Mu’allim
Allah, Malaikat/Jibril, Nabi/Rasul, manusia, syaitan
b. Muta’allim
Malaikat, Nabi/Rasul, manusia, binatang.
c. Madat at-Ta’lim
Bahan ajar yang diberikan oleh manusia kepada manusia lainnya dalam proses ta’lim yaitu al-Kitab, as-Sunnah, membaca, menulis dan ilmu-ilmu yang baik.[9]
d. Karakteristik Proses Ta’lim
Karakteristik yang tergambar dalam proses ta’lim adalah sebagai berikut:
1. Dilakukan secara bertahap
2. Pemberitahuan ilmu dengan dijelaskan
3. Dari tidak tahu menjadi tahu
4. Dilakukan secara berulang-ulang
5. Perlu adab
6. Hubungannya bersahabat
7. Mendorong untuk melakakukan amal baik
8. Mu’allim berlaku ihsan kepada muta’allim, yaitu kasih kepada yang bodoh, bersifat lembut, tidak suka memukul, tidak suka balas dendam, tidak membenci, mencaci muridnya, selalu berusaha menyampaikan pelajaran dengan baik, dan memberikan pengertian dan pemahaman terhdapat muridn-muridnya.[10]
5. Target Program Mujalasah Ta’limiyyah
Tidak ada kegiatan yang tidak bermanfa’at selama kegiatan itu memiliki target yang mulia. Target yang kami inginkan selama kegiatan ini adalah sebagai berikut:
a. Terbentuk ikatan yang kuat untuk memperdalam kajian kebahasa Araban, keislaman dan kejam’iyyahan
b. Mampuh menyusun karya ilmi’ah seputar kebahasa Araban dan keislaman
c. Membentuk kelompok yang siap untuk menterjemahkan kitab-kitab berbahasa Arab
d. Mampuh mencetak mahasiswa yang ahli dalam debat dan berpidato bahasa Arab
e. Memberikan kontribusi untuk jurusan berkaitan dengan bahan materi yang dipelajari dalam mata kuliah.
[1] A.W.Munawwir, Kamus Al-Munawwir Arab-Indonesia Terlengkap, (Surabaya : Pustaka Progressif, 2002), hlm.202.
[2] Syekh Musthafa Ghalayain, Jami’ ad-Durus al-‘Arabiyyah, juz 1 (Beirut : Maktabah al-‘Ashriyyah, 1987), hlm.219.
[3] A.W.Munawwir, Kamus Al-Munawwir Arab-Indonesia Terlengkap, (Surabaya : Pustaka Progressif, 2002), hlm.202.
[4] Syekh Baitullah Bayyat, Mu’jam al-Furuq al-Lughowiyyah,(Tk : Muassasah an-Nasyr al-Islami, 2000), hlm.164-165
[5] Abu Bakr Al-Baihaqi, Syu’ab al-Iman, Jilid 11(Riyadh : Maktabah ar-Rusyd, 2003), hlm.351
[6] Sulaiman bin Ahmad bin Ayyub Abu al-Qosim ath-Thabrani, al-Mu’jam al-Kabir, Jilid 22 (Tk: Maktabah al-‘Ulum wa al-Hikam), hlm.125
[7] Jalaluddin as-Suyuthi, Jami’ al-Ahadits, Jilid 41, hlm.438.
[8] Mashdar Shina’i adalah isim yang bersambung dengan ya nisbah disertai ta untuk menunjukan kepada sifat pada isim tersebut. Terdapat pada isim jamid dan isim musytaq. (Jami’ ad-Durus al-‘Arabiyyah:1987:1:177-178)
[9] Dedeng Rosidin, Akar-akar Pendidikan dalam Alquran dan Hadits, (Bandung : Pustaka Umat, 2003), hlm.103-104
[10] Dedeng Rosidin, Akar-akar Pendidikan dalam Alquran dan Hadits, (Bandung : Pustaka Umat, 2003), hlm.103-108
Tidak ada komentar:
Posting Komentar